Sabtu, 31 Januari 2026
Selamat Datang di Website Resmi MAN 1 Padang Panjang

2025

31 Dec 2025 Hendriko Septriadi 0 Komentar 85 Dilihat

Tahun 2025 lahir dari embun pagi yang belum sempat mengering. Pada awalnya, ia datang sebagai harapan yang ringan—seperti desir angin yang membawa wangi bunga liar, menjanjikan perjalanan yang penuh cahaya. Namun, takdir selalu punya garisnya sendiri. Langkah yang tadinya lincah perlahan berubah berat, seolah setiap tapak harus menembus kabut yang menutup pandangan.


Ada hari-hari ketika mata terbuka, tetapi hati enggan menyapa dunia. Ada malam-malam ketika doa mengalir lebih cepat daripada kata-kata, karena hanya langit yang mampu menampung beban paling rahasia. Angin kehidupan bertiup tak terduga—persimpangan datang silih berganti, meninggalkan jejak keputusan yang terkadang terasa seperti luka yang belum sempat sembuh.


Namun di balik getir, selalu ada secercah cahaya yang tak sekalipun padam. Dalam lelah ada tangan-tangan hangat yang menggenggam dari kejauhan, dalam tangis ada pelukan sunyi yang menenangkan, dalam jatuh ada suara lirih yang membisikkan: “Bangkitlah, perjalananmu belum usai.” Dan pelan-pelan, seperti matahari yang menembus celah awan setelah hujan panjang, semangat kembali menyalakan langkah.


Setiap perjalanan tak hanya soal ke mana kaki berlabuh, tetapi tentang bagaimana hati bertahan. Tahun ini mengajarkan bahwa kehilangan bukan akhir, melainkan ruang baru untuk menumbuhkan kekuatan. Bahwa air mata bukan kehinaan, tetapi sungai kecil yang mengalirkan keberanian. Bahwa diam tak selalu berarti rapuh—kadang ia adalah doa yang menunggu waktunya untuk mekar.


Kini, mendekati ujung tahun, diri ini tak lagi mengejar kesempurnaan, tetapi kedamaian. Tidak semua mimpi tercapai, namun hati menjadi lebih luas untuk menerima apa yang tinggal, dan lebih lapang untuk melepaskan apa yang pergi. Luka-luka kecil berubah menjadi ukiran yang memperindah jiwa, dan langkah yang dulu goyah kini menjadi irama perjalanan yang lebih tenang.


Tahun 2025 mungkin penuh liku, tapi dari sanalah jiwa belajar berdiri tanpa gelisah. Setelah badai, kita tahu betapa berharganya cahaya. Setelah gelap, kita paham makna sebuah harapan. Dan ketika menatap tahun yang menunggu di depan sana, hati berbisik pelan:

“Aku telah jatuh, tapi tak pernah benar-benar runtuh; aku terluka, tapi tak pernah berhenti tumbuh.”

BY: Hendriko Septriadi

Sering dianggap sombong sebelum benar-benar mengenal, padahal saya pribadi yang tenang dan reflektif. Saya pernah menulis mini novel berjudul Bingkisan Kalbu sebagai wujud ekspresi hati dan pandangan...

Blog Terkait.

Tambahkan Komentar.